Kasus LGBT? Korban Bungkam, Kampus Tertidur, Poster Jadi Pahlawan!

Opini1531 Dilihat

Penulis: Wahdi Laode Sabania

Di negeri ini, kalau ada masalah kampus, biasanya yang pertama kali muncul bukan solusi, tapi poster. Ada demo, ada spanduk, ada seruan di media sosial.

Lalu rektorat duduk manis di kursi empuk sambil berkata, “Kita akan tindaklanjuti.” Setelah itu, ya, kita semua tahu, kasusnya entah ke mana, lenyap seperti wajan ibu kos ketika akhir bulan.

Begitu pula dengan kasus dugaan pelecehan LGBT di sebuah kampus. Awalnya ramai, menggelegar, jadi bahan obrolan dari kantin sampai grup WhatsApp alumni.

Poster protes bermunculan di media sosial, meminta pihak kampus bersikap tegas. Slogan-slogan mahasiswa yang biasanya dipakai buat demo UKT, kali ini dipakai untuk menuntut keadilan.

Namun, di tengah gegap gempita itu, korban justru memilih diam. Tidak mau bicara lagi, tidak mau kasusnya dibahas lagi.

Bungkam seribu bahasa. Bagi orang luar, diam ini mungkin tanda kasusnya selesai. Padahal diam korban lebih mirip seperti bunyi “clingak clinguk” lampu merah yang mati, membahayakan semua orang.

Mengapa korban bungkam? Nah, inilah episode yang lebih menarik daripada sinetron 200 episode. Konon, sebelum bungkam, korban sempat bertemu seorang mahasiswa.

Bukan mahasiswa sembarangan ini mahasiswa berani, yang seakan-akan sedang magang jadi polisi.

Ia mengintrogasi korban dengan gaya ala intel gadungan, wajah serius, suara ditekan, pertanyaan-pertanyaan tajam.

Korban yang sudah lemah tambah ciut. Akhirnya, daripada makin stres, korban memilih diam. Pendamping korban pun curiga, jangan-jangan ada intimidasi.

Baca juga:  Strategi Rekayasa Persepsi untuk Kemenangan Pilkada

Betul, intimidasi. Kata yang lebih serem daripada “sidang skripsi” dan lebih bikin deg-degan daripada “siapa dosen penguji kita?”

Tentu kita bisa pahami curiga itu. Sebab kalau korban tiba-tiba bungkam setelah ketemu mahasiswa interogator, ya logikanya ada sesuatu yang salah.

Normalnya, korban bertemu mahasiswa itu mestinya merasa dikuatkan, bukan malah seperti dipanggil ke ruang BAP.

Kalau dipikir-pikir, mahasiswa kita memang makhluk multitalenta. Siang kuliah, sore demo, malam jadi admin akun gosip, dan di waktu senggang bisa berubah jadi intel. Sayangnya, multitalenta ini jarang dipakai di jalur yang benar.

Kita coba bayangkan suasananya. Korban yang mestinya ditanya dengan lembut, justru kena pertanyaan tajam, “Kamu yakin korban?” atau “Jangan-jangan kamu salah paham?”

Bayangkan, orang yang baru jatuh dari sepeda, malah ditanya, “Kamu yakin jatuh?” Itulah logika mahasiswa intel.

Di sini kita perlu jujur, kampus kita seringkali lebih sibuk menjaga nama baik daripada menjaga korban.

Maka jangan heran, ada mahasiswa yang merasa perlu jadi intel dadakan, entah atas nama siapa.

Korban pun akhirnya bungkam, dan kampus bisa bernapas lega, “Nah, kalau korban diam, artinya masalah selesai.”

Padahal tidak begitu. Diamnya korban itu tanda luka makin dalam. Sama seperti mahasiswa yang tiba-tiba rajin kuliah, itu bukan tanda sadar, tapi tanda ada yang tidak beres mungkin sudah kena ultimatum orang tua.

Baca juga:  UIN Palopo dan Misteri Dosen Sekali Lihat

Lucunya, di luar sana, mahasiswa lain sibuk bikin poster protes. Di media sosial, poster-poster itu bertebaran, “Tindak Tegas Pelecehan!” “Kampus Jangan Tutup Mata!” Slogan-slogan heroik ini bikin kita terharu.

Tapi di sisi lain, kita tahu, kampus kita pandai sekali main petak umpet. Kalau ditanya, jawabannya, “Kami sedang mendalami.” Kalau ditekan, bilang, “Proses masih berjalan.” Kalau ditunggu, jawabannya, “Tunggu lagi.” Sampai akhirnya semua lupa.

Mari kita sindir sedikit. Kalau saja kampus serius, mestinya mereka segera turun tangan, memberi rasa aman pada korban. Bukan malah membiarkan mahasiswa jadi intel gratisan. Apa perlu kampus bikin mata kuliah baru, “Teknik Interogasi Lanjutan?” Nanti syarat kelulusannya, berhasil bikin korban trauma dua kali lipat.

Kita juga harus ingat, korban LGBT di kampus itu bukan hanya soal individu, tapi juga soal keberanian kampus menjaga ruang aman.

Kalau korban dibiarkan bungkam, maka pesan yang tersampaikan jelas, kampus lebih takut kehilangan nama baik daripada kehilangan kemanusiaan.

Pendamping korban sudah benar curiga. Dan kecurigaan ini mestinya jadi pintu investigasi serius.

Jangan sampai mahasiswa yang hobi interogasi justru lebih didengar daripada jeritan korban. Kalau itu yang terjadi, kampus bukan lagi lembaga pendidikan, melainkan panggung sandiwara, aktornya mahasiswa, penontonnya masyarakat, dan korbannya ya tetap korban.

Baca juga:  OPINI: Dramatisasi Pesan Whatsapp

Tapi mari kita tertawa pahit. Di negeri ini, korban sering dianggap masalah. Korban yang bicara dianggap bikin ribut.

Korban yang diam dianggap sudah selesai. Jadi serba salah. Kalau begitu, korban harusnya belajar jadi pesulap, bisa menghilang sendiri agar semua orang senang.

Namun, yang lebih ajaib lagi adalah kelakuan kita. Kita lebih sibuk memperdebatkan apakah korban benar atau salah, daripada sibuk memastikan korban aman. Kita lebih getol menyusun teori konspirasi daripada menyediakan telinga untuk mendengar. Dan di sinilah ironi kita semua. Sibuk bicara, tapi malas mendengar.

Akhirnya, kasus ini memberi kita pelajaran satir.

Pertama, mahasiswa jangan kebanyakan gaya jadi intel. Belajar dulu ilmu mendengarkan sebelum sok-sokan mengintrogasi.

Kedua, kampus jangan hanya menjaga nama baik. Nama baik itu percuma kalau mahasiswa merasa tidak aman. Ketiga, masyarakat jangan cuma heboh di poster. Setelah poster viral, jangan ikut hilang.

Dan terakhir, untuk korban yang memilih diam.

Kami tahu diam Anda bukan tanda kalah, melainkan tanda sudah terlalu banyak beban.

Semoga saja, suatu hari kampus ini belajar, menjaga korban lebih penting daripada menjaga reputasi.

Kalau tidak, maka kita hanya akan melahirkan satu generasi baru. Yaitu generasi mahasiswa intel birokrasi kampus, kampus budeg, dan korban yang bungkam.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *