Intelektual Muda, Methodius Kossay Luncurkan Buku Untuk Menginspirasi Generasi Tanah Papua

Jayapura – Intelektual muda tanah Papua sekaligus Koordinator Penghubung Komisi Yudisial RI Wilayah Papua Dr Methodius Kossay, SH, M.Hum, CMP,CT, Kamis (23/5) meluncurkan buku karyanya berjudul Dinamika Penghubung Komisi Yudisial dalam Pengawasan Hakim Di Papua dalam diskusi secara virtual yang dipandu Bapak Gigih selaku Direktur Komunitas Melek Politik, Jakarta.

Methodius mengatakan, buku karya itu dirampungkan di sela-sela menunaikan tugasnya sebagai Koordinator Penghubung Komisi Yudisial RI Wilayah Papua dengan maksud menginspirasi generasi muda tanah Papua.

“Sebagai anak muda asli Papua saya memiliki tanggung jawab besar mencerahkan masyarakat, terutama generasi muda agar bisa memberikan inspirasi sehingga kami sama-sama bekerja keras dan berkarya di bidang masing-masing,” ujar Methodius melalui keterangan tertulis yang diterima dari Jayapura, Papua, Kamis (23/5).

Putra asli Papua lulusan Program Doktor Ilmu Hukum Universitas Trisakti ini juga berdoa dan berharap agar buku karya ini mendorong semakin bagi banyak anak muda Papua meluangkan waktu menulis untuk mencerahkan publik.

“Buku ini lahir bertolak dari pengalaman selama mengemban tugas di bidang pengawasan berdasarkan amanah selaku Koordinator Penghubung Komisi Yudisial Republik Indonesia wilayah Papua. Saya berusaha menjadikan setiap hal sebagai pembelajaran yang dapat membawa manfaat dan sebagai salah satu insan peradilan,” kata Methodius.

Menurut Methodius, buku karya tersebut merupakan buku pertama yang mengurai mengenai Penghubung Komisi Yudisial di Indonesia. Sejauh pengamatannya, belum ada buku tentang Penghubung Komisi Yudisial yang mengurai secara detail terkait komisi ini.

“Buku ini merupakan hasil karya dan kontribusi serta bentuk pengabdian saya kepada Komisi Yudisial Republik Indonesia yang bermanfaat dalam menegakkan kehormatan hakim di Indonesia,” kata Methodius, Magister Hukum lulusan Program Pascasarjana Universitas Atma Jaya Yogyakarta.

Selain itu, ujar Methodius, buku itu lahir untuk memberikan informasi dan sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat, khususnya para pencari keadilan di seluruh Indonesia dan lembaga peradilan di bawah Mahkamah Agung dan Komisi Yudisial sebagai lembaga negara dalam menegakkan kode etik dan pedoman perilaku hakim.

Sejak menunaikan tugas sebagai Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Papua pekan pertama November 2022, ujarnya, banyak kasus yang sudah ditangani bersama para komisioner, terutama kasus-kasus yang menarik perhatian masyarakat. Misalnya kasus korupsi pejabat, mutilasi, tahanan politik, kekerasan dalam rumah tangga hingga sengketa pertanahan dan tindak pidana Pemilu.

“Dari kasus-kasus tersebut diproses dan dilakukan pemantauan karena banyak laporan pengaduan masyarakat ada dugaan pelanggaran kode etik yang dilakukan oleh hakim. Saya juga melihat animo masyarakat tinggi untuk berkonsultasi dan sekaligus melaporkan adanya dugaan pelanggaran kode etik hakim,” ujar Methodius, intelektual muda asal Jayawijaya, Papua Pegunungan.

Sedangkan pembicara lain, Ansel Deri dalam diskusi mengapresiasi lahirnya buku karya Methodius yang dinilai sebagai karya penting guna mendorong gerakan literasi yang dilakukan berbagai komunitas literasi di berbagai kabupaten maupun kota di wilayah tanah Papua.

“Saya mengapresiasi lahirnya buku karya sahabat Methodius Kossay di sela-sela kesibukan menunaikan tugas sebagai Ketua Penghubung Komisi Yudisial Wilayah Papua,” ujar Ansel Deri, Pemimpin Redaksi Odiyaiwuu.com.

Jurnalis kelahiran Lembata, NTT ini juga mengapresiasi buku Methodius yang dipandang bentuk pertanggungjawaban intelektual seorang anak muda tanah Papua yang mencintai masyarakat, terutama generasi muda.

“Saya juga mengoleksi dan membaca beberapa karya Methodius yang terbit sebelumnya. Ini cara mini ikut merawat gerakan literasi di tanah Papua. Buku-buku karya Methodius menarik karena ditopang latar pendidikan seorang doktor ilmu hukum,” ujar Ansel, yang juga Sekretaris Papua Circle Institute, lembaga kajian yang care dengan isu-isu tanah Papua. (*/dirman)

Komentar