OPINI: Demi Gaya Hidup, Gen Z Paksa Diri Miliki iPhone Lewat Segala Cara

Opini918 Dilihat

Era digital saat ini yang dimana gawai atau smartphone bukan lagi sekadar alat komunikasi melainkan telah bertransformasi menjadi simbol status sosial, penanda gaya hidup, bahkan menjadi ukuran harga diri bagi sebagian kalangan.

Fenomena ini terlihat sangat mencolok di kalangan Generasi Z atau Gen Z, sebutan bagi mereka yang lahir pada rentang tahun 1997 hingga 2012.

Salah satu fenomena yang paling sering kita saksikan adalah kegilaan terhadap produk keluaran Apple khususnya iPhone.

Tidak sedikit dari kalangan muda ini yang rela melakukan berbagai cara, bahkan yang terkesan memaksakan diri, hanya untuk bisa memegang benda tersebut. Apakah ini murni kebutuhan, atau sekadar gaya hidup hedonis yang buta?

Fakta di lapangan menunjukkan keinginan memiliki iPhone di kalangan Gen Z seringkali melampaui batas kemampuan ekonomi yang mereka miliki.

Banyak di antara mereka yang masih berstatus sebagai pelajar atau mahasiswa, yang belum memiliki penghasilan tetap, namun begitu gigih mengejar merek tertentu.

Kita sering melihat berbagai cara yang dilakukan demi bisa menggenggam alat tersebut. Mulai dari menuntut orang tua membelikan dengan alasan untuk menunjang sekolah, memanfaatkan program cicilan atau paylater yang kini marak bermunculan, melakukan pinjaman online hingga melakukan penghematan ekstrem dengan cara mengurangi jatah makan atau kebutuhan pokok lainnya hanya demi menyisihkan uang untuk mencicil gadget tersebut.

Baca juga:  Pentingnya Menjaga Kesehatan Reproduksi Wanita Sejak Remaja

Ada juga yang memilih jalan pintas atau cara-cara yang tidak pantas, bahkan melanggar norma dan hukum, demi mendapatkan uang untuk membeli barang mewah tersebut. Ini adalah bukti nyata bahwa pola pikir mereka telah tergerus oleh budaya konsumtif yang menempatkan materi sebagai prioritas utama.

Mengapa harus iPhone? Mengapa bukan merek lain yang harganya jauh lebih terjangkau namun spesifikasinya tidak kalah bagus? Jawabannya sederhana, karena gengsi.

Di mata sebagian Gen Z, iPhone bukan lagi sekadar alat telepon pintar. Ia adalah tiket masuk ke dalam lingkungan pergaulan tertentu.

Memiliki iPhone dianggap sebagai tanda bahwa seseorang itu up to date, modern, dan berada di kelas sosial yang lebih tinggi. Sebaliknya, mereka yang menggunakan merek lain atau tipe lama sering kali menjadi objek buli, dijadikan bahan candaan, atau merasa minder saat berada di tengah teman-temannya.

Budaya pamer di media sosial seperti Instagram, TikTok, dan Twitter turut memperparah kondisi ini. Momen unboxing, foto dengan latar belakang estetik, hingga cara memotret yang dianggap lebih “estetik” dengan kamera iPhone menjadi standar baru yang dipaksakan. Akibatnya, tercipta persaingan tidak sehat di mana nilai seseorang diukur dari apa yang ia pakai, bukan dari apa yang ada di dalam kepalanya atau akhlaknya.

Baca juga:  Kasus LGBT? Korban Bungkam, Kampus Tertidur, Poster Jadi Pahlawan!

Perilaku ini adalah cerminan nyata dari gaya hidup hedonisme yaitu pandangan hidup yang menganggap kesenangan dan kenikmatan materi adalah tujuan utama hidup.

Gen Z yang terjebak dalam pola pikir ini cenderung menjadi individu yang tidak bisa menghargai nilai uang, boros, dan memiliki perencanaan keuangan yang buruk.

Yang lebih memprihatinkan adalah ketika keinginan ini dipaksakan kepada orang tua. Banyak orang tua yang merasa “terpaksa” harus memenuhi permintaan anaknya demi menjaga perasaan anak atau agar tidak dikucilkan di sekolah, padahal secara ekonomi hal itu sangat memberatkan. Hal ini menciptakan ketergantungan dan mentalitas manja yang berbahaya bagi masa depan mereka.

Selain itu, ketergantungan pada sistem pembayaran tertunda seperti paylater atau pinjaman online sering kali menjadi jebakan.

Banyak remaja yang akhirnya terjerat utang karena tidak mampu membayar cicilan, yang justru membawa masalah baru yang jauh lebih berat daripada sekadar tidak punya HP mahal.

Baca juga:  Opini: Mengapa Harus Perempuan, Mengapa Harus Naili Trisal?

Tentu, tidak semua Gen Z bersikap demikian karena banyak anak muda yang bijak, realistis, dan memahami prioritas kebutuhan. Namun, tren negatif ini harus segera dilawan agar tidak menjadi budaya yang mendarah daging.

Pendidikan tentang literasi keuangan dan pembentukan karakter harus mulai ditanamkan sejak dini. Olehnya itu, Perlu disadarkan kecanggihan teknologi seharusnya digunakan untuk meningkatkan produktivitas dan kreativitas, bukan untuk sekadar gaya-gayaan.

Kita juga perlu mengubah persepsi yang dimana “mahal belum tentu baik” dan “merek bukan segalanya”. Kemampuan, prestasi, dan akhlak mulia adalah aset yang jauh lebih berharga daripada sekadar benda elektronik yang dalam waktu satu atau dua tahun lagi pasti akan ketinggalan zaman.

Memaksakan diri membeli barang mewah seperti iPhone hanya untuk alasan gaya hidup adalah tindakan yang tidak bijak dan tidak dewasa. Jangan sampai keinginan sesaat menghancurkan masa depan dan membebani diri sendiri maupun orang lain. Maka dari itu, jadilah konsumen yang cerdas, bukan budak dari tren dan gengsi semata.

Penulis: Lily amansari A. Ibrahim

(Mahasiswi Pascasarjana UIN)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *