oleh

Edukasi Simulasi BHD Bagi Masyarakat Awam

“Semua lapisan masyarakat sangat penting diajarkan keterampilan pengetahuan tentang Bantuan Hidup Dasar untuk dapat membantu petugas kesehatan, menolong penderita yang ada dalam fase gawat darurat,“ ujar Ns. Lestari Lorna Lolo, M.Kep dalam kegiatan Simulasi Bantuan Hidup Dasar (BHD) bagi masyarakat umum, di Desa Lumaring, Kec. Larompong, Luwu. Senin (14/8/2021).

Penulis: Ns. Lestari Lorna Lolo, M.Kep dan tim KKN Mobile.

Kegiatan yang digelar Mahasiswa KKN MOBILE IKB Kurnia Jaya Persada Palopo kali ini, diinisiasi oleh Fitrah Givari S.Kep, Selviana S.Kep, Nirma Yulan S.Kep, Isnad Andzaliah S.Kep, Rusdiani. B S.Kep, Lili Sugianti Basir S.Kep, Irlamuddin S.Kep, dan dibimbing langsung Ns. Jesri, S.Kep, yang juga merupakan Alumni dari Institut Kesehatan dan Bisnis Kurnia Jaya Persada (KJP) Palopo.

Proses pelaksanaan kegiatan ini dibagi ke dalam 4 tahapan. Tahap pertama, pelaksana kegiatan melakukan persiapan materi, tahap kedua melakukan latihan BHD bersama Ns. Jesri, S.Kep, tahap ketiga melakukan penyampaian materi secara umum, sementara tahap keempat melakukan simulasi BHD kepada peserta yang di khususkan untuk remaja dan usia produktif.

(Kegiatan terlaksana dengan baik, dan menggunakan prosedur kesehatan COVID-19).

Edukasi Simulasi BHD Bagi Masyarakat Awam.

Salah satu yang menjadi penyebab kematian yang terjadi sebelum tiba di RS yaitu terlambatnya pertolongan yang diberikan pada saat korban masih berada di lokasi kejadian, kurangnya pengetahuan masyarakat umum  tentang pertolongan pertama pada korban henti jantung dan henti nafas serta masyarakat tidak terlatih dalam melakukan hal tersebut.

Bantuan Hidup Bantuan Hidup Dasar (BHD) merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan apabila kita menemukan korban yang mengalami henti jantung dan henti nafas di lingkungan sekitar.

Tujuan dilakukannya sosialisasi ini yaitu agar masyarakat umum mampu melakukan pertolongan pertama pada korban dengan cara yang baik dan benar, serta dapat mengurangi angka kematian akibat lambatnya pemberian pertolongan pertama pada korban.

Seperti apakah BHD itu?

Tahap pertama, yang dilakukan yaitu dengan memperhatikan 3A. Apa itu 3A?
Aman Diri, pastikan penolong aman, gunakan APD (Alat Pelindung Diri). Aman Lingkungan, pastikan korban ditolong di lingkungan yang aman, jika berada di jalan segera pindahkan korban ke tempat yang aman. Aman pasien, pastikan pasien/korban aman, ditolong ditempat yang datar dan jauhkan korban dari kerumunan orang.

Tahap kedua, yang dilakukan setelah mengecek keamanan yaitu mengecek kesadaran korban dengan menggunakan metode AVPU.
Alert, inspeksi/lihat apakah korban sadar atau tidak. Verbal, cek kesadaran korban dengan respon suara. Pain, cek kesadaran korban dengan menggunakan respon nyeri. Unresponsive (pasien tidak berespon), Jika korban tidak memiliki respon kesadaran sama sekali, segera panggil pertolongan. Salah satunya dengan menelpon PSC 119 atau puskesmas/RS terdekat.

Saat melakukan panggilan, pastikan untuk memperkenalkan nama terlebih dahulu, menjelaskan kondisi korban, usia, lokasi, dan menanyakan berapa lama waktu yang dibutuhkan oleh tim medis untuk sampai di lokasi serta memberikan nomor telpon yang bisa tim medis hubungi jika telah sampai ke lokasi.

Tahap ketiga, setelah penolong melakukan panggilan yaitu memeriksa kondisi pasien dengan melakukan metode CAB. C (Circulation), hal pertama yang dicek yaitu nadi korban. Cek apakah nadi korban ada atau tidak, dengan cara meletakkan dua jari di bawah rahang korban. Jika nadi korban teraba, maka langsung melangkah untuk mengecek nafas korban. Namun jika nadi korban tidak teraba maka segera lakukan Resusitasi Jantung Paru.

RJP ditujukan untuk mengembalikan fungsi jantung korban, agar dapat berfungsi Kembali. Cara melakukan RJP yaitu:

1. Sebelum melakukan RJP, pastikan posisi penolong berada di samping korban selurus dengan dada korban.

2. Letakkan tangan di atas dada korban, 2 jari diatas processus supoideus (2 jari di atas tulang dada paling bawah). Pastikan tangan tegak lurus dan berada pada posisi 90º.

3. Tekan dada korban atau kompresi (penekanan) selama 30 x. Pastikan kompresi dilakukan kecepatan 100-120 x/menit, kedalaman kompresi yaitu 5-6 cm, pastikan dada Kembali ke posisi semula sebelum ditekan Kembali (complete recoil) dan kompresi dilakukan secara continue atau terus menerus.

A (Airway), cek jalan nafas korban apakah ada sesuatu yang menghambat jalan nafas korban atau tidak. Hal yang perlu diperhatikan ketka mengecek jalan nafas korban yaitu:

1. Perhatikan leher korban apakah ada trauma servical atau tidak. Tanda-tanda adanya trauma servical yaitu adanya jejas/ memar dan leher korban terlihat lunglai.

Jika terdapat tanda trauma servical, posisikan kepala pasien dengan metode jaw trust dengan cara meletakkan jari kelingking dibawah rahang kemudian jari-jari lainnya mengikuti dan kedua jari jempol diletakkan di dagu korban kemudian angkat dagu korban dan dorong rahang korban kebawah agar jalan nafas lebih efektif.

2. Namun jika tidak terdapat adanya tanda-tanda trauma servical (patah tulang leher) maka posisikan kepala pasien dengan menggunakan metode head till dan chin lift yaitu satu tangan menekan dahi korban dan satu tangan mengangkat dagu korban agar jalan nafas lebih efektif.

B (Breathing), cek pernafasan korban dengan metode Look, listen dan Feel dalam satu waktu. Lihat apakah ada pengembangan dada korban atau tidak, dengar apakah ada bunyi nafas korban serta rasakan apakan ada hembusan nafas korban atau tidak.

Jika pasien tidak bernafas, segera lakukan ventilasi (pemberian nafas buatan), dengan cara mouth to mouth (mulut ke mulut). Ventilasi dilakukan sebanyak 2 kali dengan jeda waktu 6 detik dari ventilasi pertama dan kedua.

RJP dilakukan selama 5 siklus, 1 siklus terdiri atas 30x kompresi dan 2x ventilasi. Setelah 5 siklus selesai dilakukan, cek Kembali nadi nadi dan nafas korban, jika nadi na nafas korban belum ada, lakukan RJP Kembali.

Namun jika kondisi korban sudah membaik, artinya nadi dan nafas korban sudah ada maka Langkah terakhir yang dilakukan yaitu recovery position atau mengatur posisi korban miring ke kanan. Namun kondisi korban masih perlu di pantau tiap 2 menit untuk menghindari jika pasien mengalami kondisi yang sama Kembali.

Kapan RJP itu dihentikan? 

Pasien sadar, Tenaga medis yang dihubungi telah tiba di lokasi, Penolong Lelah, dan Korban/pasien meninggal.

Komentar

Hashtag Feed